Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

ASESMEN PENALARAN KERANGKA KERJA NORRIS-ENNIS DAN DIMENSI BELAJAR MARZANO


Kelompok 2
ASESMEN PENALARAN KERANGKA KERJA NORRIS-ENNIS DAN DIMENSI BELAJAR MARZANO

 Disusun Oleh
Nama                          NPM
Ema Rosdiana           1011060075
M. Ihsan Taufiq        1011060175
Niki Estu Putra M     1011060109
Siti Munawaroh        1011060152
Semester                     : V
Kelas                           : Biologi E     
Dosen                          : Nukhbatul Bidayati Haka, S.Pd






FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
RADEN INTAN BANDAR LAMPUNG
2011/2012
BAB I
PENDAHULUAN

Istilah asesmen (assessment) dalam Stiggin (1994) sebagai penilaian proses, kemajuan, dan hasil belajar siswa (outcomes). Sementara itu asesmen diartikan oleh Kumano (2001) sebagai ”The process of collecting data which is shows the develompment of learning”. Dengan demikian dapat disimpukan bahwa asesmen merupakan istilah yang tepat untuk penilaian proses belajar siswa. Namun, meskipun proses belajar siswa merupakan hal yang penting yang dinilai dalam asesmen, faktor hasil belajar juga tidak dapat dikesampingkan.
Asesmen juga merupakan kegiatan pengumpulan bukti yang dilakukan secara sengaja, sistematis, dan berkelanjutan serta digunakan  untuk menilai kompetensi siswa.
Penalaran adalah proses kemampuan berpikir seseorang untuk mendapatkan suatu pengetahuan baru dengan cara melogikakan konsep-konsep yang diketahuinya berdasarkan bukti-bukti yang ada dan mengkontradiksikannya dengan pengetahuan yang sebelumnya. Penalaran juga merupakan semua hubungan antara pengalaman dan pengetahuan yang digunakan seseorang untuk menjelaskan apa yang dilihat, dipikirkan dan disimpulkan. Penalaran berasal dari kemampuan berpikir seseorang.
Jadi asesmen penalaran adalah  kegiatan pengumpulan bukti yang dilakukan secara sengaja untuk membuat hubungan antara pengalaman dan pengetahuan agar dapat menjelaskan apa yang dilihat, dipikirkan dan disimpulkan.


BAB II
PEBAHASAN

A.    Perangkat Kerja Penalaran Norris dan Ennis
Norris dan Ennis (dalam Stiggin, 1989:1994) mengungkapkan satu set tahap-tahap yang termasuk proses berpikir kritis:
1.      Mengklarifikasi isu dengan mengajukan pertanyaan kritis
2.      Mengumpulkan informasi tentang isu
3.      Mulai bernalar melalui berbagai sisi atau sudut pandang yang berbeda-beda
4.      Mengumpulkan informasi dan melakukan analisis lebih lanjut, jika diperlukan
5.      Membuat dan mengkomunikasikan keputusan
Disamping mengembangkan berpikir kritis yang berkaitan dengan domain kognitif, Norris dan Ennis juga mengembangkandisposisi yang merupakan “jiwa kritis”. Berikut akan diuraikan tentang kemampuan dan disposisi kritis dari Norris dan Ennis
Norris dan Ennis (dalam Stiggins, 1994) menyatakan berpikir kritis merupakan berpikir masuk akal dan reflektif yang difokuskan pada pengambilan keputusan tentang apa yang dilakukan atau diyakini. Masuk akal berarti berpikir didasarkan atas fakta-fakta untuk menghasilkan keputusan yang terbaik, reflektif artinya mencari dengan sadar dan tegas kemungkinan solusi yang terbaik. Dengan demikian berpikir kritis, menurut Norris dan Ennis adalah berpikir yang terarah pada tujuan. Tujuan dari berpikir kritis adalah mengevaluasi tindakan atau keyakinan yang terbaik. Norris dan Ennis memfokuskan kerangkanya pada proses berpikir yang melibatkan pengumpulan informasi dan penerapan kriteria untuk mempertimbangkan serangkaian tindakan atau pandangan yang berbeda.
Jiwa kritis menurut Norris dan Ennis meliputi: kebutuhan untuk berpikir logis, berusaha keras untuk memiliki pengetahuan luas dari sumber-sumber yang kredibel, berwawasan atau berpandangan luas, dan memperoleh kesenangan pribadi dalam hubungannya dengan cara pemecahan masalah-masalah yang komplek. Namun, Norris dan Ennis berpendapat bahwa alat-alat intelektual dapat menjadi tidak berguna, jika tidak ada tanggung jawab untuk menggunakannya.
Kerangka kerja Norris dan Ennis mengungkapkan bahwa penalaran kompleks memerlukan penggunaan terintegrasi dari sejumlah proses berpikir. Karena kompleksitasnya, kerangka kerja Norris dan Ennis ini tidak cocok dengan asesmen respon terbatas. Di lain pihak, kita dapat menggunakan asesmen essay untuk memperoleh informasi tentang penalaran dan pemahaman yang komplek. Di samping itu kita dapat menggunakan asesmen essay sebagai alat untuk menguraikan proses penalaran siswa.
Asesmen kinerja sangat baik digunakan untuk menilai penalaran. Kita dapat menggunakan suatu isu kepada siswa baik individu maupun kelompok dan kemudian menilai keterampilan berpikir kritisnya. Di samping dengan asesmen kinerja, kita juga dapat menyelidiki penalaran siswa melalui komunikasi personal dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan strategis.
Atau kita dapat mengikutsertakan siswa untuk merancang kriteria penskoran essay, kriteria penskoran asesmen kinerja, atau suatu daftar tentang tahap-tahap penting dalam proses berpikir Norris dan Ennis. Dengan cara seperti itu guru setidaknya dapat menilai respon siswa dan bagaimana penalaran masing-masing siswa. Karena mereka menginternalisasi visi dan merefleksikan pekerjaannya sendiri, mereka akan menjadi pemikir yang kritis.
Sebagaimana pandangan Norris dan Ennis, kerangka kerja konseptual yang ditawarkan oleh Marzano (1992) mencakup komponen kognitif dan afektif. Dimensi kognitif (dari susunan Marzano yang relatif komplek) menguraikan tentang proses penalaran yang disajikan dalam tabel 2 dengan label, definisi dan contoh. Dimensi afektif menyatakan bahwa siswa harus mengembangkan dan mempertahankan sikap dan persepsi positif mengenai pembelajaran dan pemahaman tanggung jawab personal untuk berpikir yang bijak.  Bila dimensi afektif ini tidak dimiliki, maka sepertinya keterampilan yang mereka miliki jadi sia-sia.
Keunggulan kerangka kerja ini adalah bahwa setiap jenis berpikir yang dispesifikasikan diterjemahkan secara natural kedalam pertanyaan yang tampaknya dapat diterapkan pada semua area materi.  Lebih jauh, setiap pertanyaan tampaknya unik dan relevan dengan dunia nyata.
B.     Dimensi Pembelajaran
Sebagai bahan pertimbangan kita dapat menggunakan contoh pertanyaan yang ada pada tabel sebagai model, kemudian memilih area konten dan menempatkan serangkaian pertanyaan yang mungkin digunakan untuk memeriksa pemahaman siswa pada area tersebut.
Belajar merupakan upaya pemberian makna oleh pebelajar kepada pengalamannya. Prosesnya mengarah pada pengembangan struktur kognitif dan dilakukan baik secara mandiri maupun secara sosial. Tujuan utama pembelajaran adalah membelajarkan pebelajar. Oleh karena itu pembelajaran harus diarahkan untuk mengoptimalkan upaya tersebut. Marzano (1992) melukiskan kegiatan belajar akan efektif jika melalui 5 dimensi belajar sebagai berikut:
1.      Memiliki persepsi dan sikap positif terhadap belajar;
2.      Mau dan mampu mendapatkan dan mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan serta membangun sikapnya;
3.      Mau dan mampu memperluas serta memperdalam pengetahuan dan ketrampilan serta memantapkan sikapnya;
4.      Mau dan mampu menerapkan pengetahuan, ketrampilan, dan sikapnya secara bermakna;
5.      Mau dan mampu membangun kebiasaan berpikir, bersikap dan bekerja produktif.
Dalam kerangka kerja Marzano, masing-masing dari empat kategori kognitif utama disertai dengan tantangan asesmen tersendiri. Sebagai contoh, pada tingkatan kognitif pertama “memperoleh dan memasukan pengetahuan baru” menunjukkan asesmen yang bergantung pada komunikasi personal. Sementara format respon terbatas dan essay dapat menceritakan tentang apakah pengetahuan deklaratif dan prosedural yang dikehendaki telah dikuasai, Marzano tampaknya tertarik lebih banyak pada apakah siswa mempelajarinya dan bagaimana memasukan pengetahuan yang baru ke dalam struktur berpikir yang sudah ada. Pembelajaran merupakan proses aktif menyusun makna atau suatu proses personal. Marzano menginginkan kita untuk berdiskusi dengan siswa tentang proses-proses aktif tersebut dan memeriksa pengalaman pembelajaran siswa menggunakan problem.
Dengan kata lain, pengamatan terkait dengan tingkatan kognitif kedua “pemberian pengetahuan”  menggunakan format essay sedangkan poin yang lain menggunakkan respon terbatas. Mengidentifikasi persamaan dan perbedaan dapat berupa mengkategorikan, menarik simpulan induktif deduktif dan menemukan tema. Mengidentifikasikan ini merupakan dasar-dasar yang baik untuk latihan tes pilihan ganda dengan beberapa ilustrasi sederhana.
Untuk tingkatan kognitif ketiga dan empat “menggunakan pengetahuan bermakna dan kebiasaan berpikir” menggunakkan asesmen kinerja. Marzano mengarahkan kita untuk menghasilkan macam-macam penalaran yang lebih komplek dan hal itu memicu pemikiran asesmen kinerja yang lebih serius. Kita harus memberikan suatu keputusan dalam membuat, memeriksa dan melakukan, menyelesaikan masalah, menemukan tantangan dengan melihat kerja/usaha siswa. Sepanjang kita dapat menyetujui dalam peningkatan performance yang efektif dan sepanjang siswa mempunyai peluang besar untuk praktek, asesmen kinerja berbasiskan pada pertimbangan guru dapat dilakukan secara efektif
Pembelajaran aktif akan lebih tampak dan menunjukkan kadar yang tinggiapabila pembelajaran berorientasi pada siswa. Menurut Mc Keachie dalam bukunya Dimyati (1994 : 110) ada 7 dimensi proses pembelajaran yangmengkibatkan terjadinya kadar pembelajaran aktif, yaitu (1) Partisipasi siswadalam menetapkan tujuan kegiatan pembelajaran, (2) Tekanan pada aspek afektif dalam belajar, (3) Partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, terutama berbentuk interaksi antar siswa, (4) Penerimaan guru terhadap perbuatan dan kontribusi siswa yang kurang relevan atau bahkan sama sekali salah, (5)Kekompakan kelas sebagai kelompok, (6) Kebebasan diberikan kepada siswauntuk mengambil keputusan-keputusan penting dalam kehidupan sekolah, (7)Jumlah waktu yang digunakan untuk menanggulangi masalah siswa baik yang berhubugan maupun yang tidak berhubungan dengan pembelajaran.













BAB III
KESIMPULAN
Tahap-tahap yang termasuk proses berpikir kritis:
1.      Mengklarifikasi isu dengan mengajukan pertanyaan kritis
2.      Mengumpulkan informasi tentang isu
3.      Mulai bernalar melalui berbagai sisi atau sudut pandang yang berbeda-beda
4.      Mengumpulkan informasi dan melakukan analisis lebih lanjut, jika diperlukan
5.      Membuat dan mengkomunikasikan keputusan
Berpikir kritis merupakan berpikir masuk akal dan reflektif yang difokuskan pada pengambilan keputusan tentang apa yang dilakukan atau diyakini. Masuk akal berarti berpikir didasarkan atas fakta-fakta untuk menghasilkan keputusan yang terbaik, reflektif artinya mencari dengan sadar dan tegas kemungkinan solusi yang terbaik. Dengan demikian berpikir kritis, menurut Norris dan Ennis adalah berpikir yang terarah pada tujuan. Tujuan dari berpikir kritis adalah mengevaluasi tindakan atau keyakinan yang terbaik.
5 Dimensi belajar yaitu :
1.        Memiliki persepsi dan sikap positif terhadap belajar;
2.        Mau dan mampu mendapatkan dan mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan serta membangun sikapnya;
3.      Mau dan mampu memperluas serta memperdalam pengetahuan dan ketrampilan serta memantapkan sikapnya;
4.      Mau dan mampu menerapkan pengetahuan, ketrampilan, dan sikapnya secara bermakna;
5.      Mau dan mampu membangun kebiasaan berpikir, bersikap dan bekerja produktif.
DAFTAR PUSTAKA

Purwanto, Ngalim. (2010). Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Stiggins. 1994. Student Centered Classroom Assesment. Macmillan College Publishing Company: New York.k
Sudjiono, Anas. (2009). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pres.
Wulan, Ana Ratna.(2005). Pengertian dan esensi konsep, evaluasi,assesmen, tes dan pengukuran

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Laporan Embriologi Spermatogenesis dan OOgenesis



SPERMATOGENESIS DAN OOGENESIS
(Laporan Praktikum Embriologi)
Disusun Oleh:
Nama               : Nurhayati
Npm                : 1011060120
Kelas               : Biologi E
Semester          : V(Lima)
Dosen              : Putri Widelia Welkriana, S.Si, M.Sc.

PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI RADEN INTAN
LAMPUNG
2012
LEMBAR PENGESAHAN

Judul Percobaan          : SPERMATOGENESIS DAN OOGENESIS
Tempat Percobaan       : LABORATORIUM BIOLOGI
Tanggal Percobaan      :   November 2012
Nama                           : Nurhayati
Npm                            : 1011060120
Jurusan                        : PENDIDIKAN BIOLOGI 
Fakultas                       : TARBIYAH
Kelompok                   : 1


Bandar Lampung,   November 2012
Mengetahui
Asisten


                                                                                                Anisa Oktina Sari


BAB I
PNDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Spermatogenesis adalah proses gametogenesis pada pria dengan cara pembelahan meiosis dan mitosis. Spermatogenesis pada sperma biasa terjadi di epididimis. Sedangkan tempat menyimpan sperma sementara, terletak di vas deferens.
Spermatogenesis berasal dari kata sperma dan genesis (pembelahan). Pada spermatogenesis terjadi pembelahan secara mitosis dan meiosis. Spermatogenesis merupakan tahap atau fase-fase pendewasaan sperma di epididimis. Setiap satu spermatogonium akan menghasilkan empat sperma matang.
Oogenesis adalah penciptaan ovum (sel telur) merupakan proses dari bentuk betina gametogenesis yang setara dengan jantan yakni spermatogenesis. Oogenesis berlangsung melibatkan pengembangan berbagai tahap reproduksi telur sel betina yang belum matang.
Agar pengetahuan kita mengenai organ reproduksi jntan dan betina menjadi jelas, maka dalam percobaan kali ini kita melakukan pengamatan 2 buah preparat dan pengamatan langsung mengenai organ tersebut.

1.2  Tujuan Praktikum
Praktikum kali ini bertujuan untuk:
1.      Membedakan struktur alat-alat reproduksi jantan secara mikroskopis
2.      Menjelaskan terjadinya spermatogenesis
3.      Membedakan struktur alat-alat reproduksi betina secara mikroskopis
4.      Menjelaskan terjadinya oogenesis

BAB II
TINJAUAN PUSATAKA
Reproduksi pada makhluk hidup dapat terjadi secara vegetatif atau generatif. Reproduksi secara vegetatif tidak melibatkan proses pembentukan gamet, sedangkan reproduksi secara generatif diawali dengan pembentukan gamet. Pembentukan gamet tersebut dapat berlangsung dengan adanya organ-organ reproduksi yang mempengaruhi1.
Organ reproduksi pada mamalia jantan dan betina yang dapat menghasilkan gamet berupa organ reproduksi dalam. Organ reproduksi tersebut pada mamalia jantan dan betina memiliki bentuk, fungsi, dan bagian-bagian yang berbeda. Berikut adalah organ reproduksi dalam pada mamalia jantan :
1. Testis merupakan kelenjar kelamin yang berjumlah sepasang, terdiri atas banyak saluran yang melilit yang dikelilingi oleh beberapa lapis jaringan ikat. Saluran tersebut adalah tubulus seminiferus. Testis berfungsi untuk memproduksi sperma dan hormon testosterone. Selama masa perkembangbiakan, testes terletak di dalam skrotum yaitu kantung besar yang terletak ventral ke anus.
2. Epididimis merupakan saluran pembuluh dekat dengan permukaan testis yang berkelok keluar dari testis. Fungsi epidimis adalah untuk menyimpan sperma yang telah matang.
3. Vas deferens merupakan saluran terkecil yang panjang dan lurus, berujung di kelenjar prostat. Berperan untuk membawa sperma dari epididimis ke uretra
4. Saluran ejakulasi merupakan saluran yang pendek dan menghubungkan vesikula seminalis dengan uretra.
5. Uretra merupakan saluran panjang terusan dari saluran ejakulasi dan terdapat di penis2 .
Organ reproduksi dalam mamalia betina3 :
1. Ovarium merupakan organ utama pada wanita. Berjumlah sepasang dan terletak di dalam tongga perut pada daerah pinggang sebelah kiri dan kanan. Berfungsi untuk menghasilkan sel ovum dan hormone wanita seperti estrogen

yang berfungsi untuk mempertahankan sifat sekunder pada wanita dan juga membantu dalam prosers pematangan sel ovum serta progesterone yang berfungsi dalam memelihara masa kehamilan.
2. Fimbriae merupakan serabut atau silia lembut yang terdapat di bagian pangkal ovarium berdekatan dengan ujung saluran oviduct. Berfungsi untuk menangkap sel ovum yang telah matang yang dikeluarkan oleh ovarium.
3. Infundibulum merupakan bagian ujung oviduct yang berbentuk corong dan berdekatan dengan fimbriae. Berfungsi untuk menampung sel ovum yang telah ditangkap oleh fimbriae.
4. Tuba fallopi merupakan saluran memanjang setelah infundibulum yang bertugas sebagai tempat fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus dengan bantuan silia pada dindingnya.
5. Oviduct merupakan saluran panjang kelanjutandari tuba fallopi. Berfungsi sebagai tempat fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus denga bantuana silia pada dindingnya.
6. Uterus merupakan organ yang berongga dan berotot. Berbentuk sperti buah pir dengan bagian bawah yang mengecil. Berfungsi sebagai tempat pertumbuhan embrio.
7. Cervix merupakan bagian dasar dari uterus yang bentuknya menyempit sehingga disebut juga sebagai leher rahim. Fungsinya adalah untuk menghubungkan uterus dengan saluran vagina dan sebagai jalan keluarnya janin dari uterus menuju saluran vagina.
8. Saluran vagina merupakan saluran lanjutan dari cervix dan sampai pada vagina.
9. Klitoris merupakan tonjolan kecil yangt erletak di depan vulva. Sering disebut dengan klitoris.

Oogenesis merupakan proses pematangan ovum di dalam ovarium. Tidak seperti spermatogenesis yang dapat menghasilkan jutaan spermatozoa dalam waktu yang bersamaan, oogenesis hanya mampu menghasilkan satu ovum matang sekali waktu. Mari kita simak prosesnya lebih lanjut4:
1.      Oogonium yang merupakan prekursor dari ovum tertutup dalam folikel di ovarium.
2.      Oogonium berubah menjadi oosit primer, yang memiliki 46 kromosom. Oosit primer melakukan meiosis, yang menghasilkan dua sel anak yang ukurannya tidak sama.
3.      Sel anak yang lebih besar adalah oosit sekunder yang bersifat haploid. Ukurannya dapat mencapai ribuan kali lebih besar dari yang lain karena berisi lebih banyak sitoplasma dari oosit primer.
4.      Sel anak yang lebih kecil disebut badan polar pertama yang kemudian membelah lagi.
5.      Oosit sekunder meninggalkan folikel ovarium menuju tuba Fallopi. Apabila oosit sekunder difertilisasi, maka akan mengalami pembelahan meiosis yang kedua . begitu pula dengan badan polar pertama membelah menjadi dua badan polar kedua yang akhirnya mengalami degenerasi. Namun apabila tidak terjadi fertilisasi, menstruasi dengan cepat akan terjadi dan siklus oogenesis diulang kembali.
6.      Selama pemebelahan meiosis kedua, oosit sekunder menjadi bersifat haploid dengan 23 kromosom dan selanjutnya disebut dengan ootid. Ketika inti nukleus sperma dan ovum siap melebur menjadi satu, saat itu juga ootid kemudian mencapai perkembangan finalnya menjadi ovum yang matang.
7.      Kedua sel haploid (sperma dan ovum) bersatu membentuk sel zygot yang bersifat dipoid (2n).



BAB III
METODELGI PENELITIAN
3.1 Alat dan Bahan
Pada praktikum kali ini alat dan bahan yang dibutuhkan adalah mencit jantan dan betina, preparat ovarium, preparat spermatozoa, mikroskop, cuter, jarum suntik, jarum pentol, bak bedah, formalin, alat tulis dan tisu.
3.2 Metode Kerja
Spermatogenesis
1.      Menyiapkan preparat spermatozon.
2.      Mengamati preparat dibawah mikroskop.
3.      Menggambar hasil pengamatan.
Mencit jantan
1.      Mengambil mencit, kemudian menyuntikkan cairan formalin.
2.      Setelah mencit mati, kemudian bedah bagian dada sampai bagian kelamin dengan menggunakan cutter.
3.      Kemudian amati organ reproduksinya dan gambar hasil pengamatan.
Oogenesis
1.      Menyiapkan preparat ovarium
2.      Mengamati preparat dibawah mikroskop.
3.      Menggambar hasil pengamatan.




Mencit betina
1.      Mengambil mencit, kemudian menyuntikkan cairan formalin.
2.      Setelah mencit mati, kemudian bedah bagian dada sampai bagian kelamin dengan menggunakan cutter.
3.      Kemudian amati organ reproduksinya dan gambar hasil pengamatan.


BAB IV
HASIL PENGAMATA DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Percobaan
1.      Gambar Preparat
Penis
Vagina


Ovarium carpus teleum
Ovarium





Spermatozon
Sperma wm


Testis 38
Testis mamalia









1.      Gambar Mencit/Tikus
a.                        Mencit Jantan
Gambar mencit Luar Jantan
Keterangan

1.     Penis
2.     Testis
3.     Skrotum
Gambar mencit Dalam Jantan
Keterangan

1.     Paru-paru
2.     Usus halus
3.     Lambung
4.     Hati
5.     Jantung
6.     Usus besar
7.     Testis
8.     Saluran sperma
9.     Tempat pematangan sperma
10.  Penis
11.  Kloaka
12.  Hidung
13.  Mulut


b.      Mencit Betina
Gambar Mencit Luar Betina
Keterangan

1.    Vagina
2.    Anus
Gambar Mencit Dalam Betina
Keterangan

1.    Jantung
2.    Paru-paru
3.    Lambung
4.    Hati
5.    Ginjal
6.    Koalaka
7.    Telur
8.    Ginjal
9.    Usus

4.2 Pembahasan
Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat kita lihat melalui mikroskop maupun dengan mata telanjang. Yang dapat kita lihat pada mencit yang kita bedah adalah
Oragan bagiandalam yang meliputi organ reproduksi seperti tuba palovi, fimbrea, uterus, rahim dan lainnya, serta organ yang lainya seperti jantung, ginjal, paru-paru, hati, lambung, dan usus.
            Dari pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan mikroskop nampak jelas pada preparat organ reproduksi beberapa spesies seperti pada preparat apus spermatozon, ovarium marmut dn ovarium burung dara.
            Sudah nampak jelas organ- organ reproduksi dari tikus mencit mulai dari letak organ maupun perbedaan dengan organ lainnya. Letak organ reproduksi mencit berada pada bagian depan kaki belakang. Organ reproduksi mencit akan nampak jelas ketika kita memisahkan antara organ yang lainya karena letaknya berada dibawah.


BAB V
KESIMPULAN
·         Organ reproduksi pada mamalia jantan dan betina yang dapat menghasilkan gamet berupa organ reproduksi dalam Organ reproduksi pada mamalia jantan dan betina yang dapat menghasilkan gamet berupa organ reproduksi dalam
·         Spermatogenesis yang terjadi pada testis jantan memiliki beberapa tahap yakni spermatogonium, spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatid dan spermatozoa.
·          Oogenesis yang terjadi pada ovarium mencit betina memiliki beberapa tahap yang meliputi oogonium, oosit primer, oosit sekunder, ootit dan ovum.
















DAFTAR PUSTAKA


Isnaeni, Wiwi.2006.Fisiologi Hewan.Kanisius.Yogyakarta

Lytle, Charles F. dan John R. Meyer.2005.General Zoology.McGraw- Hill Companies, Inc.New York.

Saktiyono.2004.Biologi.Erlangga.Jakarta.

Sherwood. Fisiologi Hewan.(Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.)2001



[1] [1] 1Isnaeni, Wiwi.2006.Fisiologi Hewan.Kanisius.Yogyakarta
2 Lytle, Charles F. dan John R. Meyer.2005.General Zoology.McGraw- Hill Companies, Inc.New York.
3 Saktiyono.2004.Biologi.Erlangga.Jakarta.
4 Sherwood. Fisiologi Hewan.(Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.)2001

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS